Senin, 24 Agustus 2015

Murtadkah bila meninggalkan tiga kali shalat Jum’at berturut-turut?



Yang menyatakan “kafir” bila meninggalkan tiga kali shalat Jum’at berturut-turut itu bukan Rasulullah saw., melainkan salah seorang sahabat dekat beliau, yaitu Ibnu ‘Abbas r.a.: “Barangsiapa meninggalkan tiga kali shalat Jum’at berturut-turut, sungguh dia telah mencampakkan Islam ke belakang punggungnya (kafir).” (HR Abu Ya’la, dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahiih at-Targhiib no. 732)

Ibnu Abbas itu adalah seorang sahabat yang terkenal “lunak” dalam berislam. Tidak ada bukti-bukti empiris yang menunjukkan bahwa dia memperlakukan orang yang meninggalkan tiga kali shalat Jum’at berturut-turut sebagai orang yang telah murtad. Penggunaan kiasan “telah mencampakkan Islam ke belakang punggungnya” (bukan kata-kata qath’i seperti “telah menjadi orang kafir”) pun menunjukkan bahwa “kafir” yang dimaksud itu bukan dalam dataran hukum, melainkan pendidikan. Itu untuk menekankan kerasnya larangan meninggalkan shalat Jumat.

Secara bahasa, “kafir” berasal dari kata “kufur” yang artinya menutupi kebenaran, melanggar kebenaran yang telah diketahui dan tidak berterima kasih. Kata jamak dari “kafir” adalah “kaafiruun” atau “kuffaar”. Kata kafir dan derivasinya (kata turunannya) disebutkan sebanyak 525 kali dalam Al Qur’an. Semuanya mengacu pada perbuatan mengingkari Allah swt., seperti mengingkari nikmat-nikmat Allah (Q.S. An-Nahl 16: 44, Ar-Rum 30: 34), lari dari tanggung jawab (Q.S. Ibrahim 14:22), membangkang hukum-hukum Allah (Q.S. Al Maidah 5: 44), meninggalkan amal shaleh yang diperintahkan Allah swt. (Q.S. Ar-Rum 30: 44), dll. Arti “kafir” yang paling dominan disebutkan dalam Al Qur’an adalah pengingkaran terhadap Allah dan Rasul-Nya, khususnya Muhammad saw. dengan ajaran-ajaran yang dibawanya. Istilah kafir dalam pengertian yang terakhir ini pertama kali digunakan dalam Al Qur’an untuk menyebut para orang kafir Mekah (Q.S. Al-Mudatstsir 74: 10) Jadi, orang kafir adalah mereka yang menolak, menentang, mendustakan, mengingkari, dan bahkan anti kebenaran. Seseorang disebut kafir apabila melihat sinar kebenaran, ia akan memejamkan matanya. Apabila mendengar ajakan kebenaran, ia menutupi telinganya. Ia tidak mau mempertimbangkan dalil apa pun yang disampaikan padanya dan tidak bersedia tunduk pada sebuah argumen meski telah mengusik nuraninya.

Mengenai orang yang meninggalkan tiga kali shalat Jum’at berturut-turut tanpa alasan yang sah, Rasulullah saw. tidak menyebutnya “kafir”. Sungguhpun demikian, beliau pun menggunakan istilah yang “keras”, yaitu “munafik“.

Dari Usamah bin Zaid r.a. dari Nabi saw., beliau bersabda, “Barangsiapa yang meninggalkan tiga kali shalat Jum’at tanpa udzur (alasan yang sah), niscaya dia tercatat dalam golongan orang-orang munafik.” (Hadits shahih, termuat dalam Shahihul Jami’us Shaghir no: 6144 dan Thabrani dalam al-Kabir I: 170 no: 422).

Selain “munafik”, beliau pun menggunakan istilah lain yang juga “keras”, yaitu “Allah menutupi hatinya” dan “lalai“. Dari Ibnu Umar dan Abu Hurairah r.a. bahwa keduanya pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda sedang beliau bersandar pada tongkat di atas mimbarnya, “Hendaklah orang-orang itu benar-benar berhenti dari meninggalkan shalat Jum’at, atau Allah benar-benar menutup rapat hati mereka, kemudian mereka benar-benar akan menjadi orang-orang yang lalai.” (Hadits shahih dalam Shahih Shahihul Jami’us Shaghir hal 142 not 5 no: 548, Muslim II: 591 no: 865, Nasa’i III: 88)

Jumat, 21 Agustus 2015

NAMA ADALAH DOA



Sudah sepantasnya jika kita selaku umat Islam selalu mengikuti anjuran dan nasehat dari Nabi Muhammad Saw. sebagian dari nasehat beliau adalah agar para orang tua memberikan nama yg bagus dan penuh arti yg baik pada sang buah hati

Hal tersebut sesuai dengan sabda Rasulullah Saw dalam sebuah hadits riwayat imam Abi Daud dari Abi Dardaara, yg bunyinya sbb:


Rasulullah berkata: sesungguhnya kamu sekalian akan dipanggil pada hari kiamat dengan nama-namamu dan nama-nama ayahmu. Maka baguskanlah nama-namamu





Maksud oemberian nama yg bagus serta memiliki makna yg penuh arti, mempunyai beberapa manfaat sbb:
mengamalkan anjuran Rasulullah Saw
enak didengar dan enak diucapkan karena karena pelafalan dan artinya bagus
nama yg bagus dan bagus dan bermakna akan memengaruhi jiwa dan kehidupan sang buah hati. hal ini diisyaratkan dalam sebuah riwayat dalam shahih Bukhari dan Sa’iid bin al-Musayyab dari ayah dan kakeknya:



ia berkata bahwa saya mendatangi Nabi Saw. Nabi bertanya “siapa namamu?” ia menjawab “saya Hazan (kesedihan)”. kemudian Rasul menggantinya dengan ucapan “kamu adalah Sahal (kemudahan)”. Hazan menjawab “saya tidak akan mengganti nama yang telah diberikan ayahku”. Ibnu Musayyab berkata “tidak akan berhenti kesedihan kepada kami setelahnya
secara tidak langsung ketika kita menyebut nama sang buah hati, kita sedang mendoakannya sesuai dengan makna dari nama tersebut. misalnya jika anda memilihkan nama shalih (berarti orang yg saleh) maka ketika kita memanggilnya, sama halnya dengan mendoakannya menjadi orang yang saleh
anak memiliki ciri/identitas ketika dipanggil, baik di dunia fana ketika bergaul dengan sesama dan ketika di akhirat ketika menghadap padaNya
Tips Memberi Nama Bayi yang Islami
gunakan nama serta rangkaian nama yang merujuk pada kebaikan sifat, keunggulan karakter dan atau pada kebesaran Allah semata
memberi nama dengan nama-nama Nabi dan Rasul, nama Imam Perawi Hadits atau para Sahabat Rasul yang saleh dan berbudi baik. teriring harapan agar kelak sang buah hati juga beroleh akhlak mulia seperti nama besar yang ia sandang
hindari penggunaan nama yang menghamba pada kekuatan lain selain Allah misalnya: Abdul Uzza (hamba matahari), Abdul Qamar (hamba bulan) atau Abdul Nar (hamba api). juga pada nama berhala dewa-dewi yang disembah oleh orang-orang jahiliyah



Diriwayatkan dari Hani bin Zaid bahwa ketika ia datang menghadap Nabi sebagai utusan beserta kaumnya, beliau mendengar mereka memanggil salah seorang dari mereka dengan Abdul Hajar. Lantas Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bertanya kepadanya, “Siapa namamu?” la menjawab, “Abdul Hajar.” Beliau bersabda, “Tidak, kamu adalah Abdullah (hamba Allah) bukan Abdul Hajar (hamba batu)!
hindari nama yang merupakan gelar superior seperti Malikul Malik (raja diraja), Haakimul Hukkaam (hakim segala hakim), dll karena gelar-gelar superior seperti itu adalah milikNya semata
jika ingin memberikan nama-nama Allah pada sang buah hati, jangan menggunakan alif dan lam, misalnya al-‘Aziz, as-Sayyid, al-Hakiim. al-Khaliq, ar-Rahiim, al-Quddus, dll. Yang demikian tidak boleh diberikan, selain kepada Allah saja. adapun jika tanpa alif dan lam, maka diperbolehkan. Contohnya adalah: Rahman, Rahiim, Quddus, Sayyid, dll
bagaimana dengan nama-nama modern (barat)? misalnya: Alex, John, Mark, Francis, dll. sebagai Muslim sebaiknya anda memberi nama sesuai dengan tuntunan syariah agar barokah. nama-nama bayi Barat mempunyai akar nama yg merujuk pada budaya, keyakinan dan agama lain yang pasti berbeda dengan Islam kan?
Mengganti Nama Buah Hati yang maknanya Buruk

Tips Memberi Nama Bayi yang Islami – disebutkan dalam kaidah ushul Fiqh yaitu “perintah atas sesuatu merupakan larangan akan kebalikannya”. Rasulullah Saw menganjurkan agar para orang tua berusaha memberikan nama yang bagus dan bermakna baik dan sebaliknya beliau juga melarang memberikan nama yg maknanya jelek

bahkan beliau selalu mengganti nama orang yang dianggapnya jelek atau tidak bermakna. hal ini tergambar dalam sebuah hadits nabi dari Imam at-Turmudzi dan Imam Ibnu Majah dari Ibnu Umar ra. dijelaskan bahwa Rasulullah mengganti nama yang dianggapnya buruk menjadi nama yg berarti:


sesungguhnya nama anak perempuan Umar bernama Aas’hiyah kemudian Rasulullah menggantinya dengan nama Jamillah

Aas’hiyah berarti wanita yg pandai berhubungan intim (merujuk pada maksiat) dan Jamillah artinya wanita yang cantik

dari sini diisyaratkan bahwa setiap nama yg mengandung makna jelek atau makna yang kurang jelas dapat diganti dengan nama yang bagus bermakna. alangkah eloknya jika nama-nama bayi ini anda siapkan dan rancang sedini mungkin sebelum sang buah hati lahir

Semoga artikel dan blog ini dapat membantu anda mempersiapkan Nama Bayi Islami yg bermakna bagus dan barokah

Rabu, 19 Agustus 2015

KISAH CINTAMU RUMIT ? COBA BANDING KAN DENGAN KISAH CINTA NABI YUSUF




Bismillah... Alhamdulillah wa Sholatu wa Salamu 'ala Rosulillah wa 'ala Alihi wa Ashabihi Ajma'in. Amma ba'du.

Berbicara mengenai kisah Nabi Yusuf 'alaihissalam, maka tidak melulu soal pemalsuan kematian Yusuf yang direkayasa oleh 11 saudara-saudara, atau soal tuduhan Yusuf yang mencuri sabuk kenabian kakeknya, Nabi Ishak 'alaihissalam, bukan juga soal akhir kisah bahagia kehidupan Yusuf dan keluarganya, tapi juga soal kontroversi pernikahan dan kisah cinta Nabi Yusuf dan Zulaikha. Lalu apakah benar kisah Nabi Yusuf yang begitu tersohor dan sangat masyhur secara Islam benar adanya?

Saya akan sedikit mengutip syair sekaligus doa sebagian Muslim ketika akan melakukan pernikahan, biasanya mereka memanjatkan doa :



للَّهُمَّ اَلِّفْ بَيْنَهُمَا بِمَحَبَّتِكَ كَمَا اَلَّفْتَ بَيْنَ آدَمَ وَحَوَّى وَاَلِّفْ بَيْنَهُمَا كَمَا اَلَّفْتَ بَيْنَ يُوْسُفَ وَزُلَيْخَا وَمُحَمَّدٍ وَخَدِيْجَةِ اْلكُبْرَى وَأَصْلِحْ جَمْعَهُمَا فِى الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ وَهَبْ لَهُمَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَقُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْهُمَا مِنْ عِبَادِكَ النَّافِعِيْنَ عَلَى دِيْنِكَ وَلِمَصَالِحِ اْلمُؤْمِنِيْنَ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
"Ya Allah, satukan mereka berdua (pengantin laki-laki dan perempuan) dengan cinta-Mu, sebagaimana Engkau satukan antara Nabi Adam dan Hawa. Satukanlah keduanya sebagaimana Engkau satukan Nabi Yusuf dan Zulaikha, Nabi Muhammad dan Khadijah al-Kubro. Baikkanlah penyatuan keduanya di dunia dan akhirat, berikanlah rahmat dan ‘penyejuk mata’ kepada keduanya. Jadikanlah keduanya hamba-Mu yang bermanfaat terhadap agama-Mu dan kemaslahatan orang-orang yang beriman, berkat rahmat-Mu, wahai Tuhan Yang Maha Penyayang."
Doa tersebut begitu masyhur dan sering diucapkan sebelum pernikahan, walau sebenarnya tidak memiliki isnad dan matan yang jelas, seperti halnya kisah cinta Nabi Yusuf dan Zulaikha menurut Isra'iliyat.

Mungkin ada banyak dari sebagian Muslim bertanya, manusia siapakah yang mempunyai kisah cinta yang paling romantis dan menyentuh qolbu?
Ada sebagian mengatakan bahwa kisah cinta Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dengan sayyidatuna Khadijah al-Kubro radiyallahu 'anha adalah yang paling masyhur.
Tapi ada sebagian Muslim lain berpendapat bahwa kisah cinta Nabi Yusuf bin Yakub 'alaihissalam dan Zulaikha adalah yang paling romantis dan menyentuh qolbu. Benarkah demikian?

Soal kisah cinta nan romantis ala Rasulullah dan Khadijah mungkin tidak perlu lagi di ragukan keshahihannya, karena memang memiliki riwayat yang begitu jelas dan riil. Tapi bagaimana dengan kisah cinta Nabi Yusuf dan Zulaikha?
Didalam riwayat Islam tidak pernah sedikitpun disebutkan perihal pernikahan Nabi Yusuf dan Zulaikha, karena memang kisah cinta Nabi Yusuf dan Zulaikha adalah pengkisahan dari Isra'iliyat. Mengapa disebut sebagai kisah Israi'liyat?
Karena memang kisah tersebut bersumber pada awal mula keturunan Nabi Yakub bin Ishak 'alaihissalam, yang akhirnya turun temurun kepada bani Israil secara umum.

Tapi didalam kisah Isra'iliyat tentu tidak serta merta ditolak begitu saja karena, dalam kisah-kisah Isra'iliyat dibagi menjadi 3 klasifikasi :
1. Kisah yang dianggap benar, karena wahyu dari Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam menegaskan hadits tersebut.
2. Kisah yang dianggap palsu, karena wahyu dari Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam menolak hadits tersebut.
3. Kisah yang tidak dikenali baik kebenarannya atau kesalahannya.

Sedangkan masalah kasus tersebut tidak pernah tersebutkan dalam Al Qur'anul Karim dan Al Hadits sekalipun.

• Ditinjau dari Perspektif Al Qur'an
Tidak pernah disebutkan sama sekali bahwa istri Al-Aziz (Atau Qiftir) yang termaktub dalam Al Qur'an merujuk kepada Zulaikha.
Kisah soal Nabi Yusuf dan wanita istri dari Qiftir ini dijelaskan didalam Surah Yusuf dari ayat 21 hingga seterusnya.
Sedangkan didalam Al-Qur'an terjemahan dari Departrmen Agama Republik Indonesia, Surah Yusuf pada ayat 31, ada kutipan yang menyebutkan bahwa Istri Qiftir adalah Zulaikha, Zalikha, atau Ra'il. Namu sesungguhnya nama-nama tersebut tidak berdasarkan sesuatu yang kuat sumbernya.

Dalam tafsirnya Tafsir Al Qur'an al-Hakim atau lebih masyhur dengan nama Tafsir al-Manar, Muhammad Rasyid Ridha menjelaskan bahwa Al Qur'an tidak menyebutkan sama sekali nama istri Al-, Aziz bahkan nama Al Aziz itu sendiri.
Sedangkan Ibnu Katsir rahimahullah dalam kitabnya Qishash Al Anbiya' juga menyebut nama Zulaikha, namun beliau menggunakan istilah ‘qilla’, atau konon.

Maka menurut perspektif Al Qur'an sendiri nama Zulaikha masih ambigu, atau berupa qilla', jadi tidak bisa dicerna secara langsung begitu saja karena nama "Zulaikha" hanya sebagai bentuk jamak untuk memudahkan dalam penyebutan saja.

• Menurut Tarikh
Dalam kitab-kitab tafsir banyak yang menceritakan pernikahan Zulaikha dengan Nabi Yusuf. Imam Ath-Thabari meriwayatkan dari Muhammad bin Ishaq bahwa ketika Nabi Yusuf keluar dari penjara dan menawarkan diri menjadi bendaharawan negara, Raja Mesir saat itu menempatkan Nabi Yusuf di posisi Al Aziz yang membelinya. Al-Aziz pun dicopot dari kedudukannya. Tak berapa lama kemudian, Al Aziz meninggal dunia, dan Raja Mesir menikahkan Nabi Yusuf dengan mantan istri Al Aziz, Ra'il atau Zulaikha.

Kisah yang sama juga diriwayatkan oleh banyak mufassir, diantaranya Ibnu Katsir dalam tafsirnya Tafsir Al Qur'an Al 'Azhim, Imam Az Zamakhsyari dalam tafsirnya al-Kasysyaf 'an Haqa'iq At Tanzil wa Uyun al-Aqawil fi Wujuh At Ta'wil, Imam Fakr Ad Din Ar Razi dalam tafsir Mafatih Al Ghaib, dan lain-lain.

Al Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya juga menceritakan kisah lain namun serupa yang panjang mengenai pernikahan Nabi Yusuf dengan mantan istri Al Aziz, Zulaikha. Namun muhaqqiq tafsirnya, Dr. Muhammad Ibrahim Al Hifnawi dan Dr. Muhmud Hamid Utsman menjelaskan bahwa kisah ini sama sekali tidak benar.

Berhadapan dengan riwayat-riwayat tersebut, terdapat perbedaan pendapat antara ulama hadits dengan ulama tarikh (sejarah). Ulama hadits sepakat, riwayat seperti ini dinilai lemah dan tidak dapat dijadikan hujjah sama sekali. Sebaliknya, ulama tarikh menerima riwayat seperti ini, karena standar periwayatan sejarah (yang tidak ada kaitannya dengan agama) tidak seketat standar periwayatan hadits yang berkaitan dengan agama.

Memang benar, perbedaan mengenai status Zulaikha ini tidak masuk ranah aqidah. Artinya, seseorang tidak dikategorikan sebagai zindiq atau munafiq hanya lantaran meyakini bahwa Zulaikha menikah dengan Nabi Yusuf 'alaihissalam, dan semacamnya.
Bukan bermaksud membesar-besarkan, namun kaum muslimin harus terbiasa bersikap ilmiah dan koprehensif. Dalam artian, segala yang disampaikan haruslah memiliki dasar yang jelas. Hal itu telah disampaikan oleh Allah Subhahu wa Ta'ala dalam surah Al Isra' ayat 36 :





وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚإِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.”


عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ كَانَ أَهْلُ الْكِتَابِ يَقْرَءُونَ التَّوْرَاةَ بِالْعِبْرَانِيَّةِ وَيُفَسِّرُونَهَا بِالْعَرَبِيَّةِ لِأَهْلِ الْإِسْلَامِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تُصَدِّقُوا أَهْلَ الْكِتَابِ وَلَا تُكَذِّبُوهُمْ وَقُولُوا {آمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْنَا} الْآيَةَ.
Abu Hurairah radhiallahu 'anhuma, dia berkata, "Ahlu Kitab membacakan Taurat dengan bahasa Ibrani dan menafsirkannya dengan bahasa Arab kepada umat Islam." Lalu Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Jangan kamu benarkan Ahli Kitab dan jangan pula kamu dustai. Katakanlah, "Kami beriman kepada Allah, dan kepada apa yang diturunkan kepada kami." (Shahih Bukhari)
Dari Al-Mughirah radhiallahu 'anhuma bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :



إِنَّ كَذِبًا عَلَىَّ لَيْسَ كَكَذِبٍ عَلَى أَحَدٍ ، مَنْ كَذَبَ عَلَىَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ
"Sesungguhnya berdusta atas namaku tidaklah sama dengan berdusta pada selainku. Barangsiapa yang berdusta atas namaku secara sengaja, maka hendaklah dia menempati tempat duduknya di neraka." (Shahih Bukhari dan Muslim)

Senin, 17 Agustus 2015

MENGAPA RASULULLAH TIDAK DAPAT MEMBACA DAN MENULIS




Bismillah... Alhamdulillah wa Sholatu wa Salamu 'ala Rosulillah wa 'ala Alihi wa Ashabihi Ajma'in. Amma ba'du.

Segala yang ada pada diri Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam kesemuanya adalah mukjizat dan selalu membawa hikmah yang begitu besar bila kita mau memahaminya. Termasuk juga dengan keadaan Rasulullah yang seorang ummi (buta huruf).

Kenapa Saya menyebutnya salah satu diantara puluhan mukjizat Rasulullah?
Sama seperti halnya Nabi Musa 'alaihissalam yang kesulitan dalam berbicara, begitu juga dengan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam yang tidak dapat membaca. Keduanya merupakan mukjizat yang Allah berikan sebagai penguat dakwahnya.

Banyak dari kita yang sudah tau bahwa sebelum kedatangan Rasulullah shallahu 'alaihi wa sallam sering disebut dengan jaman jahiliyah / jaman kebodohan. Seperti kita maklumi bersama, bahwa yang disebut Kebodohan dalam konteks ini bukanlah kebodohan karena tidak bisa membaca, menulis, melukis, atau belum mengenal teknologi, Tapi lebih karena kebodohan karena terjerumus dalam kesesatan.

Sebelum kedatangan Rasulullah, hampir seluruh manusia yang ada dibelahan bumi manapun mulai menganut pemahaman yang sesat, dan sudah jauh meninggalkan ajaran Tauhid yang diajarkan oleh Para Nabi dan Rasul terdahulu. Hampir semua manusia menyembah berhala, kekejian dan kebatilan dimana-mana, hukum tauhid sudah ditinggalkan. Inilah pengertian harfiah dari Jaman Jahiliyah.

Dan setelah kedatangan Rasulullah dengan cahaya Islam, maka segala yang mempunyai unsur Jahiliyah secara perlahan-lahan mulai di musnahkan. Maka Kaum Jahiliyah meliputi seluruh kaum manusia yang ada di seluruh permukaan bumi ketika itu.

Tradisi di Arab di masa itu adalah sebuah aib besar bila tidak bisa menjalankannya. Orang Arab di masa itu mempunyai tradisi tidak membaca, dan menulis, karena menulis dan membaca dianggap suatu kebodohan, dan mereka lebih suka mengandalkan ingatan dan ketajaman pikiran. Jadi membaca dan menulis dianggap sebuah aib besar saat itu.

Maka hampir seluruh penduduk Arab sepenuhnya adalah Kaum Ummi, kaum yang tidak bisa membaca dan menulis. Jadi definisi Jahiliyah dan Ummi sudah sangat jauh di dalam pengertiannya.

Begitu juga dengan yang dialami Rasulullah, bahwa di masa kanak-kanak hingga menginjak remaja tidak pernah diajarkan pada Kakeknya Abdul Muthalib dan Pamannya Abu Thalib untuk membaca dan menulis, karena itulah tradisi turun temurun orang Arab.

Sama seperti kita orang Jawa harus memanggil yang lebih tua dengan sebutan Mas atau Mbak, bila tradisi tersebut tidak kita laksanakan kita akan dianggap tidak memiliki sopan santun dan tata krama. Jadi sebuah tradisi yang fundamentalis memang sulit untuk di rubah. Rasulullah pun termasuk seorang Ummi, seorang yang tidak dapat membaca dan menulis.





هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ "Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata." (Surah Al-Jumu'ah : 2)

Imam Al- Alusi rahimahullah menjelaskan:



فالمعنى رسولاً من جملتهم أمياً مثلهم "Jadi, maknanya adalah seorang rasul dari kumpulan mereka yang ummi seperti mereka."
(Ruhul Ma’ani, 20/495. Mawqi’ At Tafasir)

Dari Ibnu Umar radhiallahu 'anhuma bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :



إِنَّا أُمَّةٌ أُمِّيَّةٌ لَا نَكْتُبُ وَلَا نَحْسُبُ "Sesungguhnya kami adalah umat yang ummi, kami tidak menulis dan tidak menghitung."
(HR. Bukhari, Muslim, dan Abu Daud)

Salah satu murid kesayangan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam yaitu Ibnu Abbas radhiallahu 'anhuma mengatakan, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tidak bisa membaca dan menulis.
(Tafsir Imam Qurtubi, Juz 7 hal 298)





قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَىٰ إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۖ فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا "Katakanlah, sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, hanya saja aku diberi wahyu." (Surah Al-Kahfi : 110)

Lalu bagaimana bisa ketidak mampuan Rasulullah untuk membaca bisa menjadi sebuah mukjizat?
Bagaimana mungkin seorang manusia yang tidak bisa membaca dan menulis, bisa dikatakan membuat sebuah Kitab Suci yang teramat Agung kebesarannya?


Apakah ada Kitab suci di dunia ini yang bisa mengalahkan ilmu Sains selain Al Qur'an?
Tentu tidak ada. Hanya Al Qur'anul Karim satu-satu (yang benar-benar nyata) kitab suci yang mampu memgalahkan Sains sampai kapanpun.

Lihatlah Al Qur'an yang selama 1400 tahun lebih isinya tetap sama dan sama sekali tidak pernah berubah, masih suci hingga detik ini, dan tidak ada seorangpun yang bisa memalsukannya walau satu ayatpun.
Kalaupun seandainya semua Al Qur'an diseluruh dunia ini dibakar dan tidak tersisa satupun, maka akan dengan cepat para Hafiz (Penghafal) Al-Qur'an akan membuat lagi dengan isi yang sama persis dengan yang asli, tanpa perbedaan sedikitpun. Masyaa Allah...

Apakah Al-Qur'an buatan manusia seperti Muhammad? Sedangkan Rasulullah sendiri tidak bisa menulis dan membaca?





أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ ۚ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا "Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur'an? Kalau kiranya Al Qur'an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya."
(Surah An-Nisa' : 82)

*

Sebagai pembuktian sederhana saja bahwa memang Al Qur'anul Karim adalah firman Allah 'azza wa jalla yang sebenar-benarnya.





ثُمَّ اسْتَوَىٰ إِلَى السَّمَاءِ وَهِيَ دُخَانٌ "Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap..."
(Surah Al Fushshiilat : 11)





أَوَلَمْ يَرَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنَاهُمَا "Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya."
(Surah Al Anbiya' : 30)

Di kedua ayat diatas disebutkan bahwa dahulu alam semesta masih berupa asap, bersatu, lalu dipisahkan sehingga menjadi alam semesta seperti sekarang. Semua muslim tau betul perihal itu sejak lebih dari 1400 tahun silam.

Sedangkan NASA baru mempublikasikan fakta temuan tersebut pada abad ke-21, NASA menjelaskan bahwa :
"Dahulu awal alam semesta masih berbentuk 1 Nebula (seperti sebuah kabut asap), Lalu Nebula besar tersebut memisah (Bing-bang), dan pecahan tersebut Membentuk Milayaran Galaksi dan Jutaan milyar bintang, Planet, dan semua benda angkasa lain."

Bayangkan... NASA yang dipenuhi ratusan ilmuwan jenius baru bisa menemukan fakta tersebut pada abad ke-21.
Apakah mungkin seorang manusia yang hidup di pada tahun 570 M sampai tahun 632 M, dijaman yang belum mengenal teknologi canggih seperti sekarang bisa menulis awal mula bentuk alam semesta?
Sangat tidak mungkin sekali, dan semua orang dengan taraf pemikiran paling rendah sekalipun bisa mengetahuinya bahwa itu tidaklah mungkin.

Siapa lagi yang lebih tau awal mula pembentukan alam semesta jika bukan yang menciptakan langsung alam semesta itu sendiri yaitu Allah 'azza wa jalla.
Lalu Allah mewahyukan hal tersebut kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam?
Sangat mungkin sekali.





وَأَنَّهُ خَلَقَ الزَّوْجَيْنِ الذَّكَرَ وَالْأُنْثَىٰ مِنْ نُطْفَةٍ إِذَا تُمْنَىٰ "Dan bahwasanya Dialah yang menciptakan berpasang-pasangan pria dan wanita. dari air mani, apabila dipancarkan."
(Surah An-Najm : 45-46)

Para Ilmuwan Sains pada abad ke-18 hingga abad ke-20 percaya bahwa jenis kelamin calon bayi ditentukan oleh sel Ibunya, atau dengan gabungan sel Ibu dan Ayahnya maka jenis kelamin baru bisa ditentukan. Tapi Al Qur'an berkata lain, seperti dijelaskan dalam ayat diatas bahwa jenis kelamin calon bayi sepenuhnya ditentukan air mani pihak Laki-laki (Ayah).

Lalu mana yang benar? Ilmuwan Sains atau Al-Qur'an?
Ilmuwan abad ke-21 mengakui kebenaran Al Qur'an bahwa kini dipahami bahwa jenis kelamin ditentukan sel sperma dari laki-laki, dan perempuan tidak memiliki peran apapun dalam proses ini. Kromosom merupakan unsur utama dalam penentuan jenis kelamin. 2 dari 46 kromosom yang menentukan struktur seorang manusia diketahui sebagai kromosom jenis kelamin. 2 kromosom ini dinamakan XY pada laki-laki dan XX pada perempuan, karena bentuk-bentuk kromosom ini mirip dengan huruf X dan Y. Kromorom Y membawa gen yang mengkode sifat laki-laki, sedangkan kromosom X membawa gen yang mengkode sifat perempuan.

Apa mungkin seorang yang hidup di abad ke-7 bisa mengetahui secara detail proses reproduksi dengan begitu detail, sedangkan manusia yang memiliki alat super canggih di abad ke-21 baru bisa mengetahuinya?
Bahkan seorang Professor Leon Keith Moore sekalipun menyerah kepada Al Qur'an dan mengakui kebenaran Islam dan Al Qur'an.

Siapa lagi yang mengetahui rahasia penciptaan awal manusia bila bukan Allah 'azza wa jalla, dan lalu Allah mewahyukan hal tersebut kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam.

Jadi inilah hikmah sekaligus mukjizat dari ketidak mampuan Rasulullah untuk menulis dan membaca, dan Al Qur'an adalah mukjizat terbesar Allah yang diwahyukan kepada Rasulullah. Allahu akbar...



وَإِذَا قِيْلَ لَهُمْ ءَامَنُوْا كَمَا ءَامَنَ النَاسُ قَالُوْا أَنُؤْمِنُ كَمَا ءَامَنَ السُّفَهَاءُ أَلَآ إِنَّهُمْ هُمُ السُّفَهَاءُ وَلَكِنْ لَا يَعْلَمُوْنَ

"Apabila dikatakan kepada mereka: "Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang lain telah beriman". Mereka menjawab: "Akan berimankah kami sebagaimana orang-orang yang bodoh itu telah beriman?" Ingatlah, sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh; tetapi mereka tidak tahu."
Wallahu a'lam bisshawab...

Senin, 10 Agustus 2015

MENJAWAB FITNAH DAN KONTROVERSI PERNIKAHAN RASULULLAH DENGAN AISYAH BINTI ABU BAKAR








Bismillah.. Alhamdulillah wa Sholatu wa Salamu 'ala Rosulillah wa 'ala Alihi wa Ashabihi Ajma'in. Amma ba'du..


Tulisan kali ini Saya tulis atas bentuk keprihatinan Saya terhadap fitnah keji yang benar-benar telah di luar batas moral dan rasional atas pernikahan Baginda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan Aisyah radhiallahu 'anha. Tulisan ini sebagai bentuk pelurusan masalah ini dalam pandangan yang sebenarnya sesuai apa yang saya pelajari selama ini.




حَدَّثَنِي فَرْوَةُ بْنُ أَبِي الْمَغْرَاءِ حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ مُسْهِرٍ عَنْ هِشَامٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ
تَزَوَّجَنِي النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَا بِنْتُ سِتِّ سِنِينَ فَقَدِمْنَا الْمَدِينَةَ فَنَزَلْنَا فِي بَنِي الْحَارِثِ بْنِ خَزْرَج
Imam Bukhari berkata kepadaku Farwah bin Abu Al Maghra', berkata kepada kami Ali bin Mushir, dari Hisyam (bin 'Urwah), dari ayahnya, dari Aisyah radhiallahu 'Anha, dia berkata: Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menikahiku saat aku berusia enam tahun, lalu kami mendatangi Madinah dan kami singgah di Bani Al Harits bin Khazraj ...dst. (HR. Bukhari No. 3894)


Riwayat lain:


وَنَكَحَ عَائِشَةَ وَهِيَ بِنْتُ سِتِّ سِنِينَ ثُمَّ بَنَى بِهَا وَهِيَ بِنْتُ تِسْعِ سِنِينَ
"Nabi menikahi Aisyah dan dia adalah seorang gadis berusia enam tahun kemudian dia membina rumah tangganya pada saat usia sembilan tahun."
(HR. Imam Bukhari No. 3896, dengan sanad: 'Ubaid bin Isma'il, Abu Usamah, Hisyam bin 'Urwah, dan ayahnya yakni 'Urwah bin Az Zubeir)


Dalam riwayat Imam Muslim:


تَزَوَّجَنِي النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَا بِنْتُ سِتِّ سِنِينَ وَبَنَى بِي وَأَنَا بِنْتُ تِسْعِ سِنِينَ
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahiku saat itu aku berusia enam tahun, dan Beliau membina rumah tangga denganku saat aku sembilan tahun.
(HR. Muslim No. 1422, dengan dua sanad: Pertama, Yahya bin.hya, Abu Mu'awiyah, Hisyam bin 'Urwah, sanad kedua, Ibnu Numair, 'Abdah bin Sulaiman, Hisyam bin 'Urwah, ayahnya, Aisyah)




Ada banyak orang mengatakan hadits itu tidaklah benar dan mengada-ada, jawabannya adalah salah. Semua yang berada pada Kitab Shahih Bukhari dan Kitab Shahih Muslim kesemuanya adalah benar-benar shahih.


Berkata Imam An Nawawi dalam kitab At Taqrib:


أول مصنف في الصحيح المجرد، صحيح البخاري، ثم مسلم، وهما أصح الكتب بعد القرآن، والبخاري أصحهما وأكثرهما فوائد، وقيل مسلم أصح، والصواب الأول
"Kitab pertama yang paling shahih adalah Shahih Al Bukhari, kemudian Shahih Muslim. Keduanya adalah kitab paling shahih setelah Al Quran. Dan Shahih Al Bukhari paling shahih di antara keduanya dan paling banyak manfaatnya. Ada yang mengatakan Shahih Muslim paling shahih, tapi yang benar adalah yang pertama."
(Imam An Nawawi, At Taqrib wat Taisir, Hal. 1. Mawqi' Ruh Al Islam)


Beliau juga menambahkan :


الصحيح أقسام: أعلاها ما اتفق عليه البخاري ومسلم، ثم ما انفرد به البخاري، ثم مسلم، ثم ما على شرطهما، ثم على شرط البخاري، ثم مسلم، ثم صحيح عند غيرهما، وإذا قاولوا صحيح متفق عليه أو على صحته فمرادهم اتفاق الشيخين
"Hadits Shahih itu terbagi-bagi, paling tinggi adalah yang disepakati oleh Al Bukhari dan Muslim, kemudian Al Bukhari saja, kemudian Muslim, kemudian hadits yang sesuai syarat keduanya, kemudian yang sesuai syarat Al Bukhari, kemudian Muslim, kemudian shahih menurut selain keduanya. Jika mereka mengatakan: Shahih Muttafaq 'Alaih atau 'Ala Shihatihi maksudnya adalah disepakati oleh Syaikhain (dua syaikh yakni Al Bukhari dan Muslim)."


Kedua, terkenal bahwa Imam Al Bukhari dan Imam Muslim termasuk ulama yang menolak menggunakan hadits dhaif dalam semua urusan dan perkara, termasuk dalam masalah selain aqidah, hukum, halal dan haram, yang para ulama istilahkan perkara fadhailul a'mal, targhib wat tarhib, akhlak, dan semisalnya.


Jadi hadits yang mengatakan perihal pernikahan Rasulullah dan Aisyah memnag benar nyata apa adanya.


Bila kita menggunakan perspektif jaman modern saat ini untuk mengamati kasus pernikahan tersebut maka terlihat tidak objektif dan sangat tidak tepat.
Tapi bila kita mau membaca kitab-kitab para Fuqaha soal pernikahan tersebut yang menggunakan perspektif di jaman itu maka semuanya akan terlihat logis dan rasional. Karena tidak mungkin kejadian lampau ribuan tahun silam di lihat dari perspektif masa kini, maka itu tidaklah tepat. Yang pas adalah ketika kita ingin melihat suatu kasus di masa lampau kita haruslah melihat kasus tersebut sesuai timeline di jaman tersebut.


Di jaman tersebut pernikahan tersebut tidaklah aneh, atau menggemparkan karena sudah tradisi di jaman itu bahwa pernikahan seperti hal tersebut adalah wajar.


Jaman dahulu seorang Raja bahkan ikut bertempur dibarisan terdepan pasukan perang, berbeda dengan jaman sekarang dimana seorang Raja justru hanya duduk di singgasana menantikan pasukannya berperang. Begitu pula di jaman itu menikah di usia anak-anak sudah sangat wajar tidak mengherankan sama sekali, tapi bila kita di jaman sekarang memang terlihat aneh karena memang jamannya telah jauh berbeda.


*


Tapi bila kita ingin melihat kasus tersebut melalui perspektif masa kini, maka kita haruslah koprehensif dan menggunakan metode ilmiah. Ijinkan saya menjelaskan sedikit masalah kasus tersebut dari perspektif masa kini.


Dalam puluhan Hadits sahih dijelaskan secara jelas bahwa Aisyah adalah perempuan yang sangat cerdas dan itulah sebabnya Aisyah bisa menjadi salah satu perawi hadits terbanyak ke-4 setelah Abu Hurairah, Anas bin Malik, dan Abdullah bin Umar.


Aisyah masih sangat muda, tapi sudah bisa merawikan 2200 hadits lebih dan kesemuanya Sahih. Masyaa Allah...


Inilah kemuliaan Aisyah Ummul Mu'minin. seorang perempuan muda yang sangat cerdas dan tanggap


Non-muslim tidak akan percaya bahwa Rasulullah menikahi Aisyah memang karena kecerdasannya. Tapi anda harus percaya bahwa jika seandainya Rasulullah menikahi Aisyah 10 tahun lagi, maka itu sangat mustahil.
Karena Rasulullah telah wafat, dan itu artinya akan banyak kerugian sangat besar bagi umat Muslim. Kenapa?
Karena Aisyah selama 10 tahun menemani kehidupan Rasulullah (semenjak usia 9 tahun hingga 19 tahun) dan menjadi orang paling dekat dengan Rasulullah, disinilah keutamaan Aisyah.


Selama 10 tahun, Beliau banyak menjadi saksi turunnya wahyu kepada Rasulullah secara langsung dan bahkan menjadi orang pertama yang mendapat penjelasan perihal turunnya wahyu dari Rasulullah langsung. Beliau juga menyaksikan perkataan Rasulullah secara langsung yang jarang di katakan oleh Sahabat-sahabatnya. Inilah kenapa Hadits yang di rawikan oleh Aisyah banyak berbeda dengan hadits yang di rawikan oleh Sahabat-sahabat Rasulullah yang lain, karena Aisyah menjadi tempat Rasulullah bercerita hal pribadi yang sebagian Sahabatnya tidak diceritakan masalah tersebut oleh Rasulullah.


Inilah keutamaan Aisyah radhiallahu 'anha. Seorang Ummul Mu'minin bagi para Muslim. Beliau adalah wanita yang sangat cerdas, tanggap, dan begitu shalehah. Inilah hikmah terbesar Rasulullah menikahi Aisyah.


*


Selalu ada hukum disetiap wilayah, bila di Indonesia dan Malaysia menikah secara legal ketika pria berusia 19 tahun dan wanita 16 tahun, Di Mesir legal menikah ketika pria dan perempuan berusia 18 tahun.


Tapi Indonesia, Malaysia dan Mesir adalah negara yang memiliki hukum negara tersendiri, tapi untuk negara penganut hukum Syariat Islam, seperti Arab Saudi dan Brunei, pernikahan sesuai Syariat Islam. Pria dan Perempuan boleh menikah di usia kapanpun asalkan sudah memenuhi syarat secara agama.


Jadi bila berbicara hukum, itu sudah jauh berbeda dengan apa yang dikatakan sebenarnya. Hukum di setiap wilayah, daerah, ataupun setiap negara pasti berbeda. Jadi pastikanlah tau dasar hukum legal di sebuah kawasan negara.


Jadi entah mempelai Pria berusia 13 tahun, dan mempelai Perempuan berusia 10 tahun bila mereka memenuhi syarat Islam, mereka boleh menikah di Arab Saudi maupun Brunei.


Anda semua boleh memastikan ini langsung pada Dokter Sp.KK (spesialis kulit dan kelamin), Dokter Sp.OG (spesialis obstetri dan ginekologi / kebidanan dan kandungan), ataupun Ahli Sexology.


Menstruasi bagi perempuan merupakan tanda kedewasaan pertama. Tapi kapan setiap perempuan akan mengalami menstruasi pertama kali?


Paling awal adalah saat usia 9 tahun (wajar), ada juga yang berusia 10, 11, 12, atau 13 tahun (sangat wajar). Semua spesialis dan ahli diatas akan mengatakan hal yang sama seperti saya.


Tapi bila ada perempuan yang mengalami menstruasi saat berusia 9 tahun kebawah itu dalam status mengkhawatirkan (tidak normal), sedangkan batas normal (wajar) adalah usia 9 tahun keatas.


Menstruasi berbeda-beda karena bisa dipengaruhi oleh cuaca, iklim, tekanan atmosfir, dan faktor alam di sebuah wilayah.


Lalu kenapa Rasulullah mulai mengqabulkan pernikahannya dan mengajak Aisyah tinggal serumah setelah Aisyah berusia 9-10 tahun?


KARENA DI USIA 9 TAHUN AISYAH SUDAH MENGALAMI MENSTRUASI...


Jadi sekarang kita mulai tau bahwa selain Aisya adalah seorang perempuan yang sangat cerdas dan tanggap, Beliau juga mengalami kedewasaan pertama ketika berusia 9 tahun (jalan usia 10 tahun).


*


Allah Ta'ala berfirman dalam Al Qur'an, Surah An-Nisa', ayat 19 :


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا يَحِلُّ لَكُمْ أَنْ تَرِثُوا النِّسَاءَ كَرْهًا وَلَا تَعْضُلُوهُنَّ لِتَذْهَبُوا بِبَعْضِ مَا آَتَيْتُمُوهُنَّ إِلَّا أَنْ يَأْتِينَ بِفَاحِشَةٍ مُبَيِّنَةٍ وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا
"Wahai orang-orang beriman, tidak halal bagi kalian mewariskan perempuan-perempuan dengan jalan paksa dan janganlah kalian menyulitkan mereka karena ingin mengambil sebagian dari apa yang telah kalian berikan kepada mereka kecuali apabila mereka melakukan perbuatan keji yang nyata. Dan pergaulilah mereka dengan cara yang baik. Jika kalian tidak menyukai mereka maka bisa jadi kalian membenci sesuatu padahal Allah menjadikan kebaikan yang banyak padanya."


• DALIL di surah An-Nisa', ayat 19 melarang bahwa sebuah pernikahan dilakukan secara paksa. apapun alasannya Islam melarang pernikahan berdasarkan paksaan. Karena Islam begitu menjunjung kehormatan wanita.


Apakah Rasulullah menikahi Aisyah secara paksa?
Apakah Abu Bakar dan Ummi Ruman marah ketika Rasulullah menikahi Aisyah?


Mereka berdua bahkan merasa bahagia dan beruntung, karena Rasul mereka mau menikahi putrinya. Bahkan Umar bin Khattab sedih karena Abu Bakar mendapat keberuntungan sehingga Umar meminta Rasulullah juga bersedia menikahi putrinya..


Jadi kita tau tidak ada paksaan pada pihak Wali. Lalu bagaimana dengan pihak (diri) Aisyah?


Selama 66 tahun Aisyah radhiallahu 'anha hidup, apakah Beliau pernah berkata atau menceritakan keburukan tentang tentang Suaminya?
TIDAK PERNAH SAMA SEKALI...


Selama Aisyah mulai mengenal Rasulullah, hingga Beliau menikah dengan Rasulullah, sampai Rasulullah wafat, dan Beliau (Aisyah) pun wafat, TIDAK PERNAH SEKALIPUN YANG MENYAKSIKAN AISYA MEMBICARAKAN KEBURUKAN TENTANG SUAMINYA.


Apakah Aisyah menikah lagi setelah Rasulullah wafat?


DIA MENJADI JANDA HINGGA AKHIR HIDUPNYA. KARENA DI HATINYA HANYA ADA RASULULLAH SEORANG.


Aisyah selalu berkata bahwa : Suaminya (Rasulullah) sangat romantis, sangat perhatian, sangat memuliakan dirinya, sangat menyayanginya, Suaminya begitu adil, suaminya begitu mulia, suaminya adalah orang yang paling di cintainya.
Aisyah begitu mengagumi Rasulullah sedari awal Ia mengenal Rasulullah.


Jadi hanya orang-orang yang cara berpikirnya buruk dan sempitlah yang mencela pernikahan suci ini. Belum tentu mereka para pencela tersebut bisa menikah dan membina rumah tangga sebaik dan sehebat Rasulullah, tidak mungkin bisa.
Jadi sangat disayangkan masih ada orang-orang yang memiliki pemikiran dangkal dan sempit dengan niat buruk untuk menyerang pernikahan Rasulullah dan Aisyah. Karena dalam kasus ini tidak ada yang perlu dipertanyakan karena semuanya wajar, yang tidak wajar adalah mereka-mereka yang mencela tanpa mau memahami dan mengkajinya terlebih dahulu. Wallahu a'lam bishawab.

Selasa, 04 Agustus 2015

Nasehat Tidak Diterima, TAHDZIR?

Imam Muslim rahimahullahu ta’ala meriwayatkan,
عَن عَلِيٍّ بن أبي طالب أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم طَرَقَهُ وَفَاطِمَةَ  , فَقَالَ : ” أَلا تُصَلِّيَانِ ؟ ” فَقُلْتُ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، إِنَّ أَنْفُسَنَا بِيَدِ اللَّهِ ، فَإِذَا شَاءَ أَنْ يَبْعَثَنَا بَعَثَنَا . فَانْصَرَفَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ قُلْتُ لَهُ ذَلِكَ ، وَلَمْ يَرْجِعْ إِلَيَّ شَيْئًا , ثُمَّ سَمِعْتُهُ وَهُوَ مُوَلٍّ يَضْرِبُ فَخْذَهُ ، وَهُوَ يَقُولُ : وَكَانَ الإِنْسَانُ أَكْثَرَ شَيْءٍ جَدَلا (سورة الكهف آية 54) .
Dari Ali bin Abi Thalib, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengetuk rumah Ali dan Fatimah. Lalu, beliau berkata, ‘Tidakkah kalian shalat [malam]?’. Maka, kujawab, ‘Sesungguhnya diri-diri kami ada di tangan Allah. Jika Dia berkehendak kami bangun, maka kami bangun’. Rasulullah pun berpaling, ketika aku berkata seperti itu. Lalu, aku mendengar beliau pergi sambil memukul paha beliau dan mengatakan,
وَكَانَ الْإِنْسَانُ أَكْثَر شَيْءٍ جَدَلاً
‘Dan adalah manusia yang paling banyak berkilah’ (QS. Al Kahfi: 54).” [HR. Muslim No. 775]
Terkait hadits ini, Imam An Nawawi rahimahullahu ta’ala menjelaskan,
“Dalam hadits ini, terdapat anjuran untuk shalat malam dan Rasulullah memerintahkan manusia untuk itu. Pemimpin tertinggi harus memperhatikan rakyatnya terkait maslahat-maslahat akhirat dan dunia mereka. Dan hendaknya seseorang yang menasehati itu–jika tidak diterima nasehatnya atau [orang yang dinasehati] membalas nasehatnya dengan sesuatu yang tidak ia sukai–menahan diri dan tidak marah, kecuali karena ada maslahatnya.”

sumber: http://dakwahislam.net/nasehat-tidak-diterima-tahdzir/

Minggu, 19 Juli 2015

YANG DI QURBANKAN ISMAIL BUKANLAH ISHAQ



Setiap tahunnya umat Muslim selalu memperingati hari raya Qurban. Ada banyak hikmah dibalik hari raya qurban, termasuk didalamnya adalah kisah awal dibalik hari raya qurban yang identik dengan kisah Nabi Ibrahim 'alaihissalam dan puteranya, Nabi Ismail 'alaihissalam.
Mungkin semua Muslim sudah hafal betul kisah tersebut sejak kecil, tapi apa jadinya bila kisah tersebut mendapat pertentangan atau bantahan pihak lain yang menurut mereka kisah tersebut salah?

Benarkah kisah pengqurbanan Ismail kepada Allah didalam Al Qur'an telah salah?
Kristen mengatakan Al Qur'an telah salah karena yang benar adalah Ishaq yang di qurbankan oleh Ibrahim. Lalu manakah yang benar? Islam atau Kristen? Al Qur'an atau Bibel?
Maka marilah kita kaji kebenarannya.





هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَىٰ وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ

"Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al Qur'an) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrikin tidak menyukai." (Surah At-Taubah : 33)

Semua kisah Nabi Ibrahim 'alaihissalam dan pengqurbanan puteranya, Nabi Ismail 'alaihissalam serta kelahiran Nabi Ishaq 'alaihissalam dapat kita temui didalam Surah As-Saffat, ayat 100-113 :



وَقَالَ إِنِّي ذَاهِبٌ إِلَى رَبِّي سَيَهْدِينِ
رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ
فَبَشَّرْنَاهُ بِغُلَامٍ حَلِيمٍ
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِن شَاء اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ
وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيمُ
قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا إِنَّا كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِين
إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْبَلَاء الْمُبِينُ
وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ
وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي الْآخِرِين
سَلَامٌ عَلَى إِبْرَاهِيمَ
كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ
إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُؤْمِنِين
وَبَشَّرْنَاهُ بِإِسْحَاقَ نَبِيّاً مِّنَ الصَّالِحِين

[109] Dan Ibrahim berkata: "Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku."
[100] Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh.
[101] Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar.
[102] Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar".
[103] Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya).
[104] Dan Kami panggillah dia: "Hai Ibrahim,
[105] Sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.
[106] Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.
[107] Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.
[108] Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian,
[109] (yaitu) "Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim".
[110] Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.
[111] Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.
[112] Dan Kami beri dia kabar gembira dengan (kelahiran) Ishaq seorang nabi yang termasuk orang-orang yang saleh.
[113] Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq. Dan diantara anak cucunya ada yang berbuat baik dan ada (pula) yang Zalim terhadap dirinya sendiri dengan nyata.

Bila dicermati secara seksama maka dapat di ketahui bahwa Ishaq lahir setelah peristiwa qurban tersebut, bukan Ishaq yang di qurbankan melainkan anak dari Ibrahim yang lebih dulu dari Ishaq. Lalu siapakah anak Ibrahim yang di qurbankan?


Didalam Surah Ibrahim, ayat 39 dijelaskan :



الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي وَهَبَ لِي عَلَى الْكِبَرِ إِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ ۚ إِنَّ رَبِّي لَسَمِيعُ الدُّعَاءِ

"Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tua (ku) Ismail dan Ishaq. Sesungguhnya Tuhanku, benar-benar Maha Mendengar (memperkenankan) do'a."
Dari penjelasan dalil-dalil diatas maka sudah begitu nyata didalam Islam, bahwa Ismail adalah anak Ibrahim yang dikurbankan, karena Ishaq lahir setelah peristiwa perqurbanan tersebut.

*

Tapi Kristen sangat mati-matian membantah Al Qur'an dan mengatakan bahwa Ishaq lah yang di qurbankan Ibrahim, bukan Ismail. Kristen mengatakan bahwa di dalam Bibel, Ishaq adalah anak Ibrahim yang diqurbankan. Bila Kristen mengatakan demikian, ada baiknya kita teliti dan kaji bersama kebenarannya.
Benarkah apa yang tertulis dalam Bibel demikian?
Semua kisah Ibrahim, Ismail, dan Ishaq semuanya ada didalam Perjanjian Lama, Kitab Kejadian (Book of Genesis).

• Didalam Kejadian, Pasal 16, ayat 15-16 dijelaskan bahwa :
[15] Lalu Hagar melahirkan seorang anak laki-laki bagi Abraham dan Abraham menamai anak yang dilahirkan Hagar itu Ismael.
[16] Abraham berumur delapan puluh enam tahun, ketika Hagar melahirkan Ismael baginya.

(Diatas menjelaskan bahwa Ismael lahir ketika ayahnya sudah berusia 86 tahun. Melalui Istrinya, Hagar)

• Didalam Kejadian, Pasal 21, ayat 5 dijelaskan bahwa :
[5] Adapun Abraham berumur seratus tahun, ketika Ishak, anaknya, lahir baginya.

(Maka sudah sangat terbukti bahwa Ismael adalah anak pertama dari Abraham. Dan selisih usia Ismael dan Ishak adalah 14 tahun)

• Didalam Kejadian, Pasal 21, ayat 4 dijelaskan bahwa :
[4] Kemudian Abraham menyunat Ishak, anaknya itu, ketika berumur delapan hari, seperti yang diperintahkan Allah kepadanya.

Kita tau bahwa di dalam Kristen diwajibkan menyunat anak yang berusia 8 hari. Bila tidak disunat, maka orang tersebut wajib dibunuh (Kejadian 17:12-14).
Maka dimasa Ishak berarti tradisi menyunat sudah ada dan diterapkan.
Tapi sejak kapan perintah bersunat ada?

• Didalam Kejadian, Pasal 17, ayat 23-26 menjelaskan denga sangat jelas bahwa :
[23] Setelah itu Abraham memanggil Ismael, anaknya, dan semua orang yang lahir di rumahnya, juga semua orang yang dibelinya dengan uang, yakni setiap laki-laki dari isi rumahnya, lalu ia mengerat kulit khatan mereka pada hari itu juga, seperti yang telah difirmankan Allah kepadanya.
[24] Abraham berumur sembilan puluh sembilan tahun ketika dikerat kulit khatannya.
[25] Dan Ismael, anaknya, berumur tiga belas tahun ketika dikerat kulit khatannya.
Pada hari itu juga Abraham dan Ismael, anaknya, disunat.

Maka kita sekarang tau bahwa perintah bersunat ada sejak Ibrahim berusia 99 tahun, dan Ismael berusia 13 tahun. dan setahun sebelum kelahiran Ishak.

• Didalam Kejadian, Pasal 22, ayat 2 menjelaskan bahwa :
[2] Firman-Nya: "Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu."

(Ayat diatas sangat jelas mengalami kesalahan fatal, dan terbukti telah terdistorsi oleh tangan manusia.
Bagaimana mungkin Ishak bisa disebutkan sebagai anak tunggal, sedangkan Ismael lebih tua darinya 14 tahun, dan selama itu Abraham tidak mempunyai anak selain Ismael. Maka Ismael jelas menjadi anak tunggal selama 14 tahun, sebelum Ishak akhirnya lahir.
Sedangkan saat Ishak beranjak dewasa, Ismael pun masih hidup, dan ketika itu Abraham sudah meninggal.
Ishak tidak pernah menjadi anak tunggal, karena cuma Ismael lah yang pernah menjadi anak tunggal Abraham.
Sudah sangat jelas bahwa ayat diatas telah mengingkari ayat-ayat Bibel sebelumnya, dan terjadi kontradiksi yang begitu konyol)

• Bagaimana tanggapan Umat Kristen soal kesalahan pada Kejadian 22:2 ?
Mereka mengatakan bahwa Ismael tidak diakui sebagai anak yang sah, karena lahir dari Hagar, yang merupakan budak dari Sara. Tapi dengan berkata seperti itu, sama saja mereka telah mengingkari dan mendustakan Kitab mereka sendiri. Karena didalam Kejadian, Pasal 16, ayat 3 dijelaskan bahwa :

"Jadi Sarai, isteri Abraham itu, mengambil Hagar, hambanya, orang Mesir itu, — yakni ketika Abraham telah sepuluh tahun tinggal di tanah Kana'an —, lalu memberikannya kepada Abraham, suaminya, untuk menjadi isterinya."

(Sudah jelas bahwa Hagar bukanlah menjadi budak Sara dan Abraham, karena saat itu Hagar sudah menjadi istri sah dari Abraham. Itu berarti Ismael juga anak yang sah dari Abraham)

• Tapi lagi-lagi Umat Kristen masih bersikeras, karena hanya Keturunan Ishak lah yang paling sah sebagai anak Abraham. Mereka merujuk pada, Kejadian 21:12 yang menjelaskan :
"Tetapi Allah berfirman kepada Abraham: "Janganlah sebal hatimu karena hal anak dan budakmu itu; dalam segala yang dikatakan Sara kepadamu, haruslah engkau mendengarkannya, sebab yang akan disebut keturunanmu ialah yang berasal dari Ishak."

Dan lagi-lagi, Kejadian 21:12 mendapat bantahan keras dari ayat sesudahnya yaitu pada 21:13 yang menjelaskan bahwa :
"Tetapi keturunan dari hambamu itu juga akan Kubuat menjadi suatu bangsa, karena ia pun anakmu."

(Maka jelas bahwa Allah pun menyatakan bahwa Ismael dan Ishak adalah sama-sama keturunan Abraham yang sah)

Bila umat Kristen masih mengotot dan bersikukuh bahwa hanya Ishak lah anak Abraham yang Sah, berarti mereka telah mendustai Kitab mereka sendirk, bukankah ini peristiwa paling menggelikan dan konyol?
Fakta membuktikan bahwa anak tunggal (dan Sah) bukan Ishak, melainkan Ismael. Maka anak yang akan disembelih oleh Abraham bukanlah Ishak, melainkan adalah Ismael.

Lalu bagaimana Kristen mengklaim bahwa yang di qurbankan adalah Ishaq, bukan Ismail?
Padahal sudah begitu jelas bahwa Kitab mereka sendiri (walau sudah terdistorsi dan penuh kontradiksi) mengatakan dengan sangat jelas bahwa bukan Ishaq yang dijadikan qurban, melainkan Ismail.
Darimana Kristen mendapatkan ide klaim yang begitu konyol tersebut?

*



نَزَّلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَأَنْزَلَ التَّوْرَاةَ وَالْإِنْجِيلَ
مِنْ قَبْلُ هُدًى لِلنَّاسِ وَأَنْزَلَ الْفُرْقَانَ ۗ إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِآيَاتِ اللَّهِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ ۗ وَاللَّهُ عَزِيزٌ ذُو انْتِقَامٍ

"Dia menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepadamu dengan sebenarnya; membenarkan kitab yang telah diturunkan sebelumnya dan menurunkan Taurat dan Injil, sebelum (Al Quran), menjadi petunjuk bagi manusia, dan Dia menurunkan Al Furqaan. Sesungguhnya orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Allah akan memperoleh siksa yang berat; dan Allah Maha Perkasa lagi mempunyai balasan (siksa)." (Surah Ali Imran : 3-4)
Inilah bukti kebenaran firman Allah 'azza wa jalla, inilah bukti janji yang sebenar-benarnya Allah kepada Islam. Al Qur'an adalah sebagai pembenar dari kitab-kitab sebelumnya dan Islam akan di menangkan atas segala agama manapun di muka bumi ini. Wallahu a'lam bishawab