Selasa, 25 Agustus 2015

Urusan Rumahtangga Adalah Tanggungjawab Suami, Bukan Isteri



" Hai dan Salam Hormat kepada anda yang masih setia menjadi pembaca blog dakwah islam saya ini. Ribuan terima kasih saya ucapkan. Memang saya amat menghargai masa yang anda sudi luangkan untuk membaca dan menambahkan ilmu berkaitan hubungan rumahtangga yang amat penting ini.
Dalam artikel kali ini, saya ingin berkongsi satu perkara yang tidak kurangnya penting bagi menjamin sesebuah hubungan perkahwinan agar terus kekal.
Mungkin apa yang bakal saya kongsikan pada kali ini bertentangan dengan pendapat majoriti dikalangan kita. Terutamanya bagi suami. Walaupun saya sendiri adalah kaum lelaki, tapi saya tidak pernah mengutarakan pendapat yang ‘berat sebelah’.
Sebenarnya, segala urusan hal-ehwal rumahtangga pada asalnya terletak di bahu suami.
Mengikut hukum Islam, tugas-tugas seperti berikut terletak di bahu suami:-

Menjaga anak
Menyediakan makan-minum isteri
Mengurus segala keperluan rumahtangga
Mendidik anak-anak dengan memastikan mereka mendapat pendidikan yang sempurna
Menyelanggara hal rumahtangga seperti memasak, menjahit, mengemas rumah dan sebagaianya. Isteri hanya bertanggungjawab MEMBANTU. Dalam kata lain, isteri akan membantu jika pihak si suami tidak mampu dan tiada masa untuk melakukan perkara-perkara tersebut oleh kerana tututan kerja di pejabat.
Akan tetapi, isteri yang melakukan perkara-perkara seperti di atas tadi, mereka akan dikurniakan dengan ganjaran pahala yang banyak dan besar oleh Allah.
Hal ini sejajar dengan salah-satu hadis Nabi yang mengatakan bahawa: ‘Seorang wanita solehah lebih baik daripada 40 orang lelaki yang soleh.’
Untuk mengelakkan berlakunya ketidak-adilan dalam rumahtangga dan perbalahan, maka suami perlulah juga libatkan diri dalam hal-hal pengurusan rumahtangga jika mempunyai walaupun sedikit kelapangan.
Jangan serahkan 100% tanggungjawab rumahtangga kepada isteri.
Dengan itu, isteri anda akan lebih menghormati anda sebagai ketua keluarga dan tidak berani untuk ingkar atau melakukan perkara-perkara maksiat semasa ketiadaan anda di sisinya.
Anda sebagai suami, boleh buat kerja-kerja rumah ketika isteri anda sakit atau tidak larat. Berkhidmat lah juga kepada isteri anda seperti memasak, mengemas rumah, menyediakan dia minuman sekali-sekala, picit kepala ketika dia pening serta bagi la dia makan ubat ketika dia sedang sakit.
Ok, sekian sahaja perkongsian saya buat kali ini. Semoga suami-suami di luar sana mula sedar akan perkara ini. "


Ni bukan aku yang memandai2 cakap yew... Memang dah tertulis macam tu. And, andai kata suami tidak dapat melakukan kerja2 ini, maka si suami haruslah menyediakan pembantu untuk melakukan kerja2 ini.. Yang ni pun bukan aku yang mengadew2 mintak yew... Memang telah diriwayatkan taw.. Rajin2 la google..Kehkehkeh...


Terbace aku kisah Sayyidina Umar r.a dengan seorang lelaki...

Lelaki itu terpaku di luar rumah Sayyidina Umar al Khattab. Tidak jadi dia hendak memberi salam kepada tuan rumah. Tak sangka Sayyidina Umar hanya diam saja bila isterinya merungut sesuatu dan berceloteh panjang. Tidak terdengar langsung suara beliau membalas kata-kata isterinya.

"Jika begini sikap Umar padahal beliau seorang yang sentiasa bersikap tegas dan keras, dan beliau juga seorang Amirul Mukminin...betapalah aku," bisik lelaki tadi. Niat asalnya adalah untuk mengadu kepada khalifah mengenai sikap isterinya yang tidak disenangi, tetapi niatnya terbantut.

Ketika dia sudah membelakangi pintu untuk melangkah pulang, Sayyidina Umar kebetulan menjenguk keluar. Sayyidina Umar lantas memanggilnya dan bertanyakan hajatnya.

"Wahai Amirul Mukminin," jawabnya, "sebenarnya aku datang ingin mengadukan keburukan isteriku kepadamu. Dia selalu berleter kepadaku. Tetapi aku mendengar isterimu juga bersikap demikian, jadi aku mengambil keputusan untuk pulang saja."

Sayyidina Umar berkata, "wahai saudara! Sesungguhnya aku menahan diri terhadap sikapnya itu kerana dia ada hak keatas diriku. Dialah yang memasakkan makananku, memasak roti untukku, membasuh pakaianku, menyusukan anak-anakku, padahal semuanya itu bukan kewajipannya. Selain daripada itu, hatiku menjadi tenteram dengannya daripada perbuatan haram. Itulah sebabnya aku sanggup bersabar atas sikapnya itu."

"Wahai Amirul Mukminin, demikian jugalah isteriku," balas lelaki tadi.

Sayyidina menambah, "wahai saudara, bersabarlah atas sikap isterimu itu kerana ia hanya sebentar sahaja."
Memasak bukan kewajipan seorang isteri, mengapa ada yang letak syarat begitu?


Senin, 24 Agustus 2015

MENCARI JODOH DALAM ISLAM




Ikhtiar untuk menemukan jodoh anda? Khusus, hanya untuk yang siap nikah tidak pakai pacaran.

Siapakah jodoh kita, kapan waktunya tiba, di mana akan dipertemukan, apakah ia benar-benar orang shaleh/ shalehah?. Semua itu rahasia Allah SWT.

Allah SWT menetapkan tiga bentuk taqdir dalam masalah jodoh. Pertama, cepat mendapatkan jodoh. Kedua, lambat mendapatkan jodoh, tapi suatu ketika pasti mendapatkannya di dunia. Ketiga, menunda mendapatkan jodoh sampai di akhirat kelak. Apapun pilihan jodoh yang ditentukan Allah adalah hal terbaik untuk kita. Allah SWT berfirman: “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui” (QS. Al Baqarah: 216).

Kita harus terikat aturan Allah. Kita juga dibekali akal untuk memahami aturan-Nya. Ketika kita memutuskan untuk taat atau melanggar aturanNya adalah pilihan kita sendiri. Bagaimana cara kita untuk mendapatkan jodoh adalah pilihan kita. Dengan jalan yang diridhoiNya atau tidak. Tetapi hasil akhirnya Allah yang menentukan.

Berikut ini ada beberapa tips agar cepat mendapatkan jodoh bagi anda yang sampai saat ini belum mendapatkan jodoh untuk menikah:

1. Tentukan terlebih dahulu kriteria pasangan ideal

Nabi bersabda: ”Apabila datang kepada kalian lelaki yang kalian ridhai agama dan akhlaknya,maka nikahkanlah ia (dengan puteri kalian). Sebab jika tidak, maka akan terjadi fitnah dibumi dan kerusakan yang besar”. "Lelaki yang bertaqwa akan mencintai dan memuliakan istrinya. Jika ia marah tidak akan menzhalimi istrinya. Kaum jahiliyah menikah dengan melihat kedudukan, kaum Yahudi menikah dengan melihat harta, kaum Nasrani menikah dengan melihat rupa, sedangkan umat Islam menikahkan dengan melihat agama".

Nabi bersabda:"Sesungguhnya dunia seluruhnya adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita (isteri) yang sholehah”. Beliau juga bersabda, ”Wanita dinikahi karena empat faktor, yakni karena harta kekayaannya, karena kedudukannya, karena kecantikannya, dan karena agamanya. Hendaknya pilihlah yang beragama agar berkah kedua tanganmu.”

Sulit mencari jodoh bisa jadi karena kriteria terlalu muluk. Janganlah kita menginginkan kesempurnaan orang lain, padahal diri kita tidak sempurna.

2. Memperluas Pergaulan Sesuai Syariat

Seringlah bersilaturrahim ke tempat saudara atau mengikuti majelis ta'lim. Ustadz, teman, orang tua, saudara, keluarga, dan yang lain Insyaallah pasti bisa diminta bantuan.

3. Sebisa mungkin hindari berpacaran

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al Israa’: 32). Kita dilarang berkhalwat, memandang lawan jenis dengan syahwat, wanita bepergian sehari semalam tanpa muhrim, dll.

Biasanya, orang pacaran selalu menutupi kekurangannya dan menampilkan yang baik-baik saja. Cari informasi dari orang dekatnya (saudara, teman, tetangganya). Perlu juga penilaian dari orang tua dan keluarga kita. Biasanya kita tidak dapat melihat kekurangan orang yang kita cintai.

4. Perbanyak introspeksi diri

Jika kita ingin mendapatkan jodoh yang shaleh, maka kita harus menjadi orang yang shaleh juga. Allah SWT berfirman: “Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula}” (QS. An Nuur: 26).

Rasulullah SAW bersabda: "Sesungguhnya Allah SWT tidak melihat pada bentuk-bentuk (lahiriah) dan harta kekayaanmu, tapi Dia melihat pada hati dan amalmu sekalian. " (HR. Muslim, Hadits no. 2564 dari Abu Hurairah). Jadi, lelaki atau wanita yang baik menurut pandangan Allah itu adalah lelaki atau wanita yang baik iman dan amalnya.

Secara lahiriah kita perlu menjaga kebersihan, kerapihan dan menjaga bau badan. Bukan berdandan berlebihan (tidak Islami), tapi tampil menarik.

5. Jangan Mencintai Secara Berlebihan

“Barangsiapa memberi karena Allah, menolak karena Allah, mencintai karena Allah, membenci karena Allah, dan menikah karena Allah, maka sempurnalah imannya. (HR. Abu Dawud)

Jika kita mencintai manusia lebih daripada Allah, niscaya hati kita akan hancur dan putus asa jika ditinggalkan. Jika kita mencintai Allah di atas segalanya, niscaya kita akan selalu tegar dan tabah karena kita yakin bahwa Allah itu Maha Hidup dan Abadi serta selalu bersama hamba yang Sholeh.

6. Jika Gagal Berusaha Lagi

Jika kita gagal, jangan putus asa dan minder. Kita harus sabar dan tetap berusaha mendapatkan yang lebih baik lagi. Yakinlah ada yang lebih baik yang sedang dipersiapkan Allah untuk kita.

Para sahabat besarpun mengalaminya. Contohnya Utsman RA yang melamar putri Abu Bakar ditolak, lalu melamar putri Umar juga ditolak, akhirnya malah menjadi menantu Rasulullah SAW.

Jodoh tidak akan lari dan akan datang pada waktunya. Bersabarlah dan sibukkan diri dengan amal sholeh. Hadapilah dengan sikap tenang, santai, tidak mudah emosi/sensitif, tidak larut dalam kesedihan, tidak berputus asa dan tetap bersemangat.

Rasulullah SAW bersabda: “Sungguh menakjubkan kondisi seorang mukmin. Segala keadaan dianggapnya baik, dan hal ini tidak akan terjadi, kecuali bagi seorang mukmin. Apabila mendapat kesenangan ia bersyukur, maka itu tetap baik baginya dan apabila ditimpa penderitaan ia bersabar maka itu tetap baik baginya.” (HR Muslim)

Gunakan energi kita untuk lebih mendekatkan diri dan mencintai Allah SWT., orang tua, dan umat. Yakinlah dengan keadilan-Nya bahwa setiap manusia pasti memiliki jodoh masing-masing. Yakinlah bahwa semua kondisi adalah baik, berguna, dan berpahala bagi kita.

7. Siap menerima taqdir Allah

Hidup adalah ujian. Bisa saja, takdir jodoh kita bukan orang shaleh. Allah SWT berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman. Sesungguhnya di antara pasanganmu dan anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka… Sesungguhnya hartamu dan anakmu, hanyalah ujian bagimu, dan di sisi Allah pahala yang besar.” (Q.S. At-Taghaabuun: 14-15)

Hal tersebut tetap bisa menjadi kebaikan apabila dijadikan sebagai lahan amal shaleh dan batu ujian untuk meningkatkan keimanan, tawakal, dan kesabaran.

8. Wanita bisa melamar lelaki

Bukan hal yang dilarang jika wanita menemukan lelaki sholeh dan berinisiatif menawarkan diri dalam pernikahan melalui peran orang yang dipercaya. Khadijah RA melalui pamannya melamar Nabi Muhammad SAW setelah mengetahui akhlak dan agama beliau.

9. Taqarrub Ilallah

Perburuan jodoh secara syar’i adalah dengan mendekati Allah super ekstra. Caranya dengan bertawasul amal-amal shaleh, tidak hanya ibadah wajib (berbakti kepada orangtua, sholat wajib), juga ibadah sunnah (shoum sunnah, sholat tahajjud/ taubat/ istikhoroh/ hajat/ witir/d huha, tilawah Al Qur’an, istighfar, infaq, dan lain-lain). Semakin dekat dengan Allah, iman bertambah dan do’a kita semakin terkabul. Usaha yang konsisten, optimis dan prasangka baik akan memudahkan jalan kita.

10. Tidak putus asa dan selalu berdoa

Bacalah doa: “Ya Rabb kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa”. (QS. Al Furqon: 74).

Doa lebih terkabul pada tempat mustajab, waktu mustajab dan memperhatikan adab berdoa. Berdoalah menurut apa yang diajarkan Allah dan Rasul-Nya. Tempat mustajab: masjid, majlis ta’lim, Arafah, Hajar Aswad, Hijr Ismail, di atas sajadah, dll.

Waktu mustajab seperti sepertiga malam yang akhir, selesai sholat wajib/tahajjud/hajat, saat sujud/I’tidal terakhir dalam sholat, sedang berpuasa, berbuka puasa, dalam perjalanan, selesai khatam qur’an, hari Jum’at, baru mulai hujan, diantara azan dan iqamat, ketika minum air zamzam, bulan ramadhan/lailatul qodar, antara zuhur dan ashar juga antara ashar dan maghrib, selesai sholat subuh, dalam kesulitan, sedang sakit, sedang ada jenazah.

Adab berdoa seperti menjauhkan hal yang haram, ikhlas, diawali dan diakhiri tahmid/sholawat, menghadap kiblat, suci dari hadats dan najis, khusyu’ dan tenang, menengadahkan kedua tangan, dengan suara rendah dan pengharapan sepenuh hati, mengulangi berkali-kali, tidak berputus asa, menghadirkan Allah dalam hati, tidak meninggalkan sholat wajib, tidak melakukan dosa besar, tidak minta sesuatu yang dilarang Allah, sambil menangis.

Nabi Musa as berdoa setelah menolong dua perempuan penggembala kambing: "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku sangat memerlukan suatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku." (QS 28:24). Allah SWT memahami keperluan dan prioritasnya, sehingga tidak saja memberi makanan, tapi juga memberi jodoh, tempat tinggal dan pekerjaan. Wallahu’alam bishawab.

Doa bagi laki2 yang berharap jodoh :

“ROBBI HABLII MILLADUNKA ZAUJATAN THOYYIBAH AKHTUBUHA WA ATAZAWWAJ BIHA WATAKUNA SHOOHIBATAN LII FIDDIINI WADDUNYAA WAL AAKHIROH”.

“Ya Robb, berikanlah kepadaku istri yang terbaik dari sisi-Mu, istri yang aku lamar dan nikahi dan istri yang menjadi sahabatku dalam urusan agama, urusan dunia dan akhirat”.

Doa bagi wanita yang berharap jodoh :

“ROBBI HABLII MILLADUNKA ZAUJAN THOYYIBAN WAYAKUUNA SHOOHIBAN LII FIDDIINI WADDUNYAA WAL AAKHIROH”.

“Ya Robb, berikanlah kepadaku suami yang terbaik dari sisi-Mu, suami yang juga menjadi sahabatku dalam urusan agama, urusan dunia & akhirat”

“ALLOHUMMAB’ATS BA’LAN SHOOLIHAN LIKHITHBATHII WA’ATTHIF QOLBAHU ‘ALAYYA BIHAQQI KALAAMIKAL QODIIMI WABIROSUULIKAL KARIIMI BI ALFI ALFI LAA HAWLA WALAA QUWWATA ILLAA BILLAAHIL ‘ALIYYIL ‘AZHIIM WA SHOLLALLOOHU ‘ALAA SAYYIDINAA MUHAMMADIN WA’ALAA AALIHII WA SHOHBIHI WA SALLAMA WALHAMDULILLAAHIROBBIL ‘AALAMIIN.”

Artinya dalam Bahasa Indonesia :

“ Tuhanku, utuslah seorang suami yang shalih untuk melamarku, condongkanlah hatinya kepadaku berkat kebenaran Kalam-Mu yang qadim dan berkat utusanMu yang mulia dengan keberkahan sejuta ucapan LAA HAWLA WALAA QUWWATA ILLAA BILLAAHIL ‘ALIYYIL ‘AZHIIM. Dan semoga Allah Melimpahkan Rahmat dan salam kepada junjungan kita, Nabi Muhammad, dan kepada segenap keluarga serta sahabatnya. Dan segala puji bagi Allah Tuhan sekalian Alam.”

ONANI di Bulan Ramadhan




Ia berdosa karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, dari apa yang beliau riwayatkan dari Rabb beliau [hadits qudsi],

يَتْرُكُ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَشَهْوَتَهُ مِنْ أَجْلِي

“Ia [orang yang shaum] meninggalkan makan, minum dan syahwatnya karena Aku.”

Dan tidak juga diharuskan untuknya meng-qadha [mengganti], karena qadha haruslah ada dalilnya, sedangkan dalil [qadha] datang untuk musafir dan orang sakit yang berbuka. Allah berfirman,

فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

“Jadi, siapa saja di antara kalian sakit atau dalam perjalanan [lalu tidak berpuasa], maka [wajib mengganti] sebanyak hari [yang iia tidak berpuasa itu] pada hari-hari yang lain.”

Dan juga bagi seorang wanita yang haid ia mengganti puasa karena hadits Aisyah di dalam Ash Shahihain [Shahih Al Bukhari dan Shahih Muslim].

Demikian juga bagi ibu menyusui dan ibu hamil. Apabila berbuka [mereka meng-qadha, karena hadits Anas bin Malik Al Ka’bi. Dan meng-qadha, karena ayat yg tadi disebutkan. Wallahu a’lam.

TIGA SYARAT AGAR AMAL IBADAH DITERIMA ALLAH

Pertanyaan:
Apa saja syarat-syarat diterimanya amalan?


Syaikh Muhammad Jamil Zainu rahimahullahu ta’ala menjawab:
Syarat-syarat diterimanya di sisi Allah ada tiga.
Pertama, beriman dan bertauhid kepada Allah. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ كَانَتْ لَهُمْ جَنَّاتُ الْفِرْدَوْسِ نُزُلاً
“Sesungguhnya, orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan shalih, untuk merekalah surga-surga Firdaus.” (QS. Al Kahfi: 107)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
قُلْ أَمَنْتُ بِاللهِ ثُمَّ اسْتَقِمْ
“Katakan, ‘Aku beriman kepada Allah’, kemudian istiqamah-lah.” [HR. Muslim]

Kedua, ikhlas. Yaitu, beramal untuk Allah tanpa riya’[1] dan sum’ah[2]. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصاً لَّهُ الدِّينَ
“Maka, ibadahilah Allah dengan ikhlas untukNya dalam [menjalankan] agama.” (QS. Az Zumar: 2)

Ketiga, sesuai dengan apa yang datang dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allahsubhanahu wa ta’ala berfirman,

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا
“Dan apa-apa yang datang kepada kalian dari Rasulullah, maka ambillah. Dan apa-apa yang beliau larang darinya untuk kalian, maka jauhilah.” (QS. Al Hasyr: 7)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَادٌّ
“Siapa saja yang mengerjakan amalan yang tidak kami contohkan, maka amalannya tertolak.” [HR. Muslim]


Antum Tidak Mau Memberikan JARH kepada Fulan, Berarti Antum DITAHDZIR!



Dalam sebuah tanya-jawab, Syaikh Sulaiman bin Salim Ar Ruhaili hafizhahullahu ta’ala mengatakan:

Belakangan ini, muncul berbagai permasalahan terkini di tengah kalangan Salafi. Yaitu, sebagian ikwah Salafi, jika salah satu syaikh mengatakan sesuatu dan syaikh yang lain mengatakan apa yang berbeda, maka yang wajib diikuti hanya Fulan. Dan jika dikatakan kepadanya, “Mari, Fulan, kita timbang bersama pendapat-pendapat mereka agar jelas al haq untuk kita pegang”, maka orang yang diajak itu akan mengatakan, “Antum kenasyubhat. Antum sudah meragukan ulama.” Saudaranya pun balik mengatakan, “Antum juga sudah meragukan ulama.” Yang kita maksud di sini adalah perselisihan di antara ulama rujukan.

Jangan seperti itu seharusnya. Di sini yang dicari adalah al haq dan dilihat dengan kaedah-kaedah syar’i. Dan di sinilah pula seseorang tidak boleh memaksa saudaranya untuk mengambil pendapatnya saja.

Karena itu, tidak boleh, misalnya, seseorang mendatangi saudaranya dan mengatakan, “Antum tidak mau mencela Fulan? Berarti antum ditahdzir.” Atau, mendatangi saudaranya, lalu mengatakan, “Selama antum mencela Fulan, antum ditahdzir.”

Sebaliknya, masing-masing orang memberitahu saudaranya bahwa Fulan telah bertakwa kepada Allah semampunya. Jadi, perhatikan olehmu, Saudaraku, perincian yang telah kami sebutkan tadi.

Perkara tersebut seharusnya diilmui dan diketahui pokok-pokok yang dimaksud–dan ini adalah perincian dalam perkara khilaf [di antara para ulama], sehingga kita bisa selamat dari berbagai permasalahan yang sungguh sebenarnya telah memecah ikhwah Salafi tanpa [hujjah yang kuat] untuk memisahkan mereka.

Bahkan, yang dimaksud itu adalah perkara ijtihad. Tidak semestinya seseorang memaksa orang lain.

Akan tetapi, yang dikedepankan itu sisi akidah dan ucapannya. Ia diberi uzur atas apa yang tampak dari al haq pada zhahirnya dan mengatakan, “Inilah pendapat yang benar, tetapi ia juga diberi uzur jika tidak tampak padanya al haq.” Dan juga mengatakan, “Inilah pendapat yang benar, tetapi juga diberi uzur siapa yang mengatakan dengan pendapat yang lain.”

Mengapa? Sebab, sebenarnya, yang membuat hati ini terguncang adalah [ketika] sebagian ikhwah Salafi menjadi keras hati-hati mereka terhadap yang lainnya karena seperti perkara-perkara yang tergolong sebagai [perkara] ijtihad.

Terpecahlah sebagian ikhwah Salafi menjadi dua kubu: kubu yang bersamanya dan kubu lawannya. Dan ini, sebenarnya, adalah perkara yang tidak benar.

Kemarin, ada seorang ikhwah dari sebagian negeri berbicara kepadaku. Kukakatan kepada mereka,

“Seharusnya untuk permasalahan-permasalahan ini kita menjaga untuk ikhwah kita kedudukan mereka, hak mereka, dan keutamaan mereka serta tidak menjadikan urusan itu menjadi dua kubu: kami dan mereka. Tetapi, semestinya kita berada dalam satu barisan, meskipun kita berselisih dalam satu permasalahan dari berbagai permasalahan yang muncul. Bukan dalam permasalahan-permasalahan yang pokok.”

Rujukan: https://m.youtube.com/watch?v=nI0tP8A8XAw diakses pa

Percaya dengan ramalan ?


Kalau beli majalah, biasanya apa sih yang sering dilihat? Artikel tentang cinta, fashion, atau kecantikan? Hmm, ada yang terlupa. Biasanya kebanyakan orang, khususnya wanita, akan lebih dulu membuka halaman tentang ramalan zodiak. Mereka ingin tahu, apa kata bintang mereka di hari ini. Bagaimana kehidupan percintaan, keuangan, dan kemajuan diri, semua akan dibahas oleh rubrik zodiak. Apakah wanita membaca ini hanya sekadar penasaran atau memang menaruh kepercayaan pada ramalan ya?


Kalau hanya penasaran, mungkin kabar buruk akan dilupakan dan mengamini kabar baik. Tetapi, bagi yang sangat percaya, tentu ramalan tersebut menjadi petunjuk baginya untuk melanjutkan hidup. Dia akan mengikuti apa yang dikatakan zodiaknya pada hari itu.

Ladies (dan juga Gentleman), sebaiknya jangan terlalu memercayai ramalan bintang, juga bentuk ramalan lainnya. Terlalu percaya dengan kata zodiak atau kata orang pintar akan membuat hidupmu menjadi berantakan. Berikut 4 efek negatif yang akan kamu rasakan ketika terlalu percaya pada ramalan.
Sulit Mengambil Keputusan

Hidup itu tentang pilihan. Apakah kamu mau bahagia atau bersedih, apakah kamu mau mencintai orang baru atau kembali pada mantan, semua adalah pilihan. orang yang terlalu percaya pada ramalan akan susah menentukan pilihan. Mengapa? Sebab, keputusan mereka ada di tangan ramalannya.

Misalnya, seorang wanita ingin mencari pria baru karena merasa nggak cocok dengan mantannya. namun ramalannya mengatakan bahwa kembali dengan mantan akan membuat hidupnya bahagia. Hal ini membuatnya goyah. Dia nggak bisa memilih untuk mengikuti kata hati atau kata ramalannya.
Nggak Percaya Diri

Ketika ramalanmu berkata baik, kamu tentu akan senang bukan kepalang. Tetapi jika ramalanmu berkata buruk? Kamu mulai dirundung kesedihan, bahkan menjadi nggak semangat karena masa depanmu dikatakan buruk.

Baik itu ramalan bagus atau ramalan buruk, keduanya sama-sama berbahaya. Di satu sisi, kamu akan meremehkan kehidupan orang lain dan bersikap terlalu percaya diri saat menerima ramalan baik. Di sisi lain, kamu akan nge-down dan merasa minder dengan diri sendiri karena ramalannya berkata buruk.
Content continue below...

Nggak Punya Motivasi Hidup

Orang yang terlalu percaya ramalan, maka hidupnya sepenuhnya bergantung pada ramalannya. Dia nggak bisa menjalani hidupnya dengan mandiri dan mantap. Sebab ia menunggu kata ramalan dulu sebelum bertindak. Jika dikatakan untuk move on, dia akan move on. Ketika yang tertulis mengajak balikan dengan mantan, ia akan kembali pada mantannya.

Jika keadannya seperti ini, ia nggak akan bisa menjalani kehidupan yang baik. Kalau ramalan berkata ia akan mengalami kegagalan cinta selama beberapa tahun ke depan, ia akan memercayainya. Seketika itu juga ia akan nge-down banget.
Dapat Merusak Kehidupan Percintaan dan Persahabatan

Ketika ramalan zodiak berkata dirinya cocok dengan sang pria, dengan semangat dan senang hati ia akan menjalin hubungan dengan pria tersebut. Begitu pun jika ramalannya berkata zodiaknya nggak cocok dengan zodiak pasangan. Seketika itu juga, ia bisa memutuskan hubungan tanpa alasan yang jelas. Sebab ia terlalu memercayai isi ramalannya. Kalau isi ramalannya tertulis bahwa ada wanita yang sedang mendekati pasanganmu, dia bisa bersikap insecure mendadak karena percaya pada hal itu.

Ramalan belum tentu jelas kebenarannya. Namun karena sudah telanjur percaya, ia menjalani apa yang telah tertulis. Hal ini bisa merusak kehidupan percintaan dan persahabatan. Ia lebih percaya pada sesuatu yang belum pasti dan dapat menuduh hal yang aneh-aneh tanpa pembuktian yang jelas.



Seru-seruan boleh kok. Tetapi, terlalu memercayai ramalan?Hati-hati, ya ladies, hidup kalian bisa terancam berantakan.

Wanita, Jangan Letakkan Harga Dirimu Pada Mahar



Tertarik membahas judul ini setelah semalam ngobrol ngalur ngidul dengan seorang sahabat. Dia cerita, di daerahnya sekarang sedang ngetren “mahar berdasarkan tingginya pendidikan atau strata keluarganya”. Mungkin sudah sejak lama cerita-cerita ini beredar, hanya saya saja yang ga gaul, hehe..

Bagi saya pribadi tren ini mencengangkan sekaligus menggelikan, bagaimana mungkin seorang wanita diberi harga sesuai dengan tingkat pendidikannya atau seperti cerita teman saya itu, ada orang tua yang mengatakan “kami sudah menyekolahkan anak kami setinggi ini, jadi wajar kalo maharnya tinggi juga”. Lha, kenapa pula calon suaminya yang tidak tahu menahu ini dijadikan ‘tumbal’? bukankah memang kewajiban orang tua untuk mendidik anak-anaknya?. Lagi pula mereka yang hendak menikah ini akan mengarungi perjalanan panjang, dari pada ‘dihamburkan’ di awal bukankah lebih baik dijadikan bekal di kemudian hari?. Teman saya ini bilang, “padahal mungkin nanti Allah akan bukakan pintu rejeki mereka, sehingga sang suami malah bisa memberi lebih dari yang diminta saat ini.” yups..setuju banget, rezeki setiap manusia sudah diatur oleh Allah.

Mengenai hal ini, Rasulullah sendiri telah mengingatkan para wali agar,“Jangan mempersulit wanita-wanita yang dalam perwalianmu dengan mahar yang tinggi. Mudahkanlah, niscaya akan kamu dapati barakahnya. karena dengan meringankan mahar dan memberi jalan mudah untuk pernikahannya akan memperindah akhlak wanita itu. Namun sebaliknya, adalah keburukan jika kamu memberatkan maharnya wanita tersebut dan menyukarkan pernikahannya, karena dapat menyebabkan akhlaknya menjadi buruk.”

Tujuan pernikahan dalam Islam adalah untuk membentengi manusia dari perbuatan buruk, memelihara pemuda dari kerusakan serta melindungi masyarakat dari kekacauan. (Hadits Shahih Riwayat Ahmad, Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasa’i, Darimi, Ibnu Jarud dan Baihaqi), menegakkan syari’at Islam dalam rumah tangganya agar terbentuk generasi yang bertaqwa kepada Allah SWT. Selain itu juga memperoleh keberkahan hidup. Semua tujuan tersebut dapat diperoleh jika sejak awal kita mengikuti anjuran Allah dan Rasulnya.

Rasulullah bersabda, “Ada tiga golongan manusia yang berhak Allah tolong mereka, yaitu seorang mujahid fi sabilillah, seorang hamba yang menebus dirinya supaya merdeka, dan seorang yang menikah karena ingin memelihara kehormatannya”. (Hadits Riwayat Ahmad, Nasa’i, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Hakim dari shahabat Abu Hurairah RA).

Kembali ke permasalahan mahar, ada baiknya kita tinjau kembali masalah ini sesuai dengan tuntunan Rasul dan teladan para sahabat. Pada masa Rasul ada beberapa kisah yang menggambarkan kesederhanaan mahar, satu dirham atau sebuah cincin besi kalau memang tidak memungkinkan untuk memberi yang lebih, sudah cukup untuk menjadi maskahwin yang layak bagi sebuah pernikahan, atau baju besi seperti saat Ali bin Abi Thalib menikahi Fathimah binti Rasulillah, atau Ummu Sulaim yang mengatakan,“Islammu, itulah maharku”, saat akan dinikahi oleh Abu Thalhah. Hadits-hadits yang meriwayatkan kisah-kisah ini diwarnai dengan keridhaan dari para wanita agung itu sendiri.

Saya tidak mengatakan bahwa semua wanita harus hanya menerima terompah seperti seorang wanita fuzarah atau segenggam tepung sebagai maharnya. Tapi sebaiknya kita mengingat kembali pesan Rasulullah bahwa “Seorang wanita yang penuh barakah dan mendapat anugerah Allah, adalah yang maharnya mudah dan akhlaknya baik. Namun sebaliknya, wanita yang celaka adalah yang sulit maharnya dan buruk akhlaknya.” Kita akan melihat bahwa ‘mahar yang kecil’, ‘mahar yang berlebihan’, dan ‘mahar yang mudah’ tidaklah sama. Perbedaannya adalah pada kemampuan, keridhaan kedua pihak dan juga barakah yang diperoleh setelahnya.

Di hari-hari menjelang wafatnya, Rasulullah mengingatkan,”Barangsiapa menikahi seorang perempuan dengan harta yang halal, tetapi menginginkan kemegahan dan kesombongan, Allah tidak akan memberinya bekal kecuali kehinaan dan kerendahan. Sesuai dengan kadar kesenangannya, Allah akan menyuruhnya berdiri di tepian jahannam dan kemudian jatuh ke dalamnya sejauh tujuh puluh kharif (ukuran panjang).”

Tuntunan Islam tentang mahar ini sangat menentramkan. Jika ada kisah wanita Fuzarah yang ridha menikah dengan mahar berupa sepasang terompah (HR Abu Daud dan Tirmidzi), ada pula kisah tentang ’Abdurrahman bin ‘Auf yang memberi mahar satu nawat emas ketika menikah. Satu nawat, kata Shaleh bin Ghanim As-Sadlan, bagi penduduk Madinah adalah seperempat dinar. Rasulullah sendiri memberi mahar kepada setiap istri beliau sebesar 500 dirham (HR Muslim, Abu Daud dan An-Nasa’i), kecuali Ummu Habibah yang mendapat mahar lebih karena Raja Najasy yang membayarkan maharnya, bukan Rasulullah (HR Abu Daud, An-Nasa’i dan Ahmad).

Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, mengatakan:
“Hadis-hadis itu mengandung ajaran bahwa mahar tidak ditetapkan batas minimumnya, segenggam gandum, sebuah cincin besi, dan sepasang terompah pun dapat dijadikan sebagai mahar dan sah pernikahannya. Sebaliknya berlebihan dalam mahar makruh hukumnya dalam pernikahan dan mengurangi barakah perkawinan.”

Memberatkan mahar dapat membuat pernikahan menjadi kehilangan barakahnya, Ikatan mereka bukan lagi al-’athifah (jalinan perasaan), melainkan serangkaian kewajiban untuk memenuhi tanggung jawab hukum dan sosial. ‘Abdul Hamid Kisyik, seorang ulama Mesir, berkata, “Jika mahar dibuat mahal, akhirnya menyebabkan kerusakan dan keresahan di muka bumi. Hal ini tidak lagi maslahat untuk ummat. Karena itu, wanita yang paling sedikit maharnya justru memiliki keagungan dan akan mendapat kebarakahan yang amat besar.”

Sebaliknya, berlebih-lebihan dalam mahar dikhawatirkan membawa madharat karena akan menjadi tradisi. Tindakan ini kemudian membentuk persepsi umum tentang status sosial, stratifikasi sosial, pola interaksi, serta prasangka social, sementara para pemudanya menjadi takut menikah. Sayyidina ‘Ali mengingatkan,“Jangan berlebih-lebihan dengan mahar wanita, sebab hal itu akan menyebabkan permusuhan.”

Rasulullah sendiri melarang pihak laki-laki berlebih-lebihan dalam mahar apalagi diluar kemampuannya. Baik mahar Rasulullah s.a.w. maupun ‘Abdurrahman bin ‘Auf, nilainya mencapai 500 dirham. Jumlah ini tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil menurut ketentuan masyarakat yang berlaku saat itu dan pastinya sesuai dengan kemampuan. Abdurrahman bin Auf sendiri masa itu adalah seorang pedagang besar.

Suatu hari seorang laki-laki datang kepada Rasul memberikan bahwa dia telah menikah dengan seorang wanita Anshar dan mahar yang diberikan adalah 4 Uqiyah. (Syaikh Mansur Ali Nashif mengatakan bahwa 1 uqiyah sama dengan 40 dirham). Rasul kemudian berkata, “Empat uqiyah? Seolah kamu mengukir perak pada permukaan gunung ini…” (HR Muslim). Imam An-Nawawi menjelaskan makna hadits tersebut dalam Syarah Sahih Muslim, bahwa,“Ungkapan ini memberi makna makruh memberi mahar melebihi kemampuan yang dimiliki suami pada saat pernikahan.”

Jadi, sebaik-baik mahar adalah ‘yang dimudahkan’, yaitu yang diberikan dan diterima dengan kerelaan kedua belah pihak. Artinya sesuai dengan kemampuan suami dan keridhaan istri terutama ketika mahar yang diberikan jauh lebih kecil daripada kebiasaan yang berlaku jika suami tidak mampu. Serta tidak dianjurkan pula berlebih-lebihan dalam memberikan mahar apalagi diluar kemampuan pihak laki-laki. Kalaupun pihak laki-laki tersebut mampu memberikan melebihi mahar yang berlaku dalam masyarakat, ada baiknya menahan diri. Kelak, ia bisa memberikannya sebagai hadiah kepada istrinya. Ini akan menambah kasih sayang di antara keduanya.

Ketika pernikahan berlangsung melalui proses yang sederhana dengan mahar yang ringan, insyaallah akan tumbuh kasih sayang dan penerimaan dalam hati suami. Sedangkan pada istri akan timbul keridhaan dan kesetiaan. Pada mahar yang ringan, ada kekayaan jiwa yang menenteramkan. Rasulullah s.a.w. bersabda, “Bukanlah kekayaan itu dengan banyaknya harta, tetapi kekayaan adalah kaya akan jiwa.” (Muttafaqun ’alaihi), ada kepercayaan tentang ketulusan cinta dan kesediaan istri untuk berjuang bersama-sama. Seperti ketika Ummu Sulaim mengatakan tidak meminta apa-apa kecuali keislaman Abu Thalhah, yang terkesan bukanlah keinginan calon istri untuk kepentingan dirinya sendiri. Tapi lebih besar dari itu yaitu misi keselamatan bagi keduanya di dunia dan akhirat.

Karena itu wanita, jangan letakkan harga dirimu pada mahar, mudahkanlah agar menjadi sebaik-baik wanita. Mahar adalah hadiah. Sedangkan hadiah dapat menumbuhkan dan menguatkan perasaan sayang dan cinta-kasih. Rasulullah mengatakan,“Berikanlah hadiah, itu akan menumbuhkan dan memperkuat rasa cinta.” Yakinlah, apapun anjuran Allah dan Rasul pastilah membawa kebaikan. Saat taat melewati batas perasaan suka dan tidak suka, allah akan bukakan jalan keluar dari masalah yang di luar kuasa kita. Saat ridha dan barakahNya hadir, akan mempermudah datangnya pertolongan Allah di saat kita merasa sulit.

Seperti yang dikatakan Salim A. Fillah (Jalan Cinta Para Pejuang), “Barakah akan memberi nuansa lain, akan mendewasakan ketika menghadapi tantangan-tantangan baru, membawa kebahagiaan di hati, kelapangan di dada, dan kejernihan di akal. Memberi ketenangan ketika menghadapi badai, membawa senyuman meski air mata menitik-nitik, menyergap rindu di tengah kejengkelan, menyediakan rengkuhan dan belaian lembut saat dada sesak oleh masalah.” Wallahu ‘Alam